Kamis, 17 November 2016

PERMAINAN TRADISIONAL ANAK


PERMAINAN TRADISIONAL ANAK

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH PENDIDIKAN JASMANI



DISUSUN OLEH

HALIMA TUSSADIYAH (RRA1F116017)
APRILIANI (RRA1F116024)
INDAH ABDIANA (RRA1F116027)
1


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
UNIVERSITAS JAMBI
21 OKTOBER 2016



KATA  PENGANTAR

Puji syukur penulis hanturkan kepada ALLAH SWT. Yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis berhasil menyelesaikan makalah ini dengan lancar dan terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini bertujuan unuk memenuhi tugas mata kuliah pendidikan jasmani.
Penulis menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat membutuhkan saran dan kritik untuk perbaikan makalah. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat dan berguna bagi pembaca.



Jambi, 21 Oktober  2016
           

   Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................    i
DAFTAR ISI .........................................................................................................   ii
BAB I    PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ............................................................................................   1
1.2  Rumusan Masalah .......................................................................................   2
1.3  Tujuan Penulisan .........................................................................................   2
BAB II   PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Permainan Tradisional ...............................................................   3
2.2  Macam-Macam Permainan Tradisional Dan Nilai Yang Terkandung
Didalamnya .................................................................................................   3
2.3  Manfaat Permainan Tradisional ..................................................................   6
BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan .................................................................................................   8
3.2  Saran ...........................................................................................................   8
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         LATAR BELAKANG 
Perkembangan zaman saat ini begitu pesat. Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat membantu manusia dalam mengerjakan berbagai hal untuk mempermudah segalanya. Ternyata teknologi juga membuat perubahan dalam bidang permainan. Permainan-permainan tradisional kini mulai ditinggalkan. Anak-anak sekarang lebih menggemari permainan yang berbau teknologi. Anak-anak sekarang sangat menyukai permainan seperti game console, permainan online di internet, ataupun permainan di pusat-pusat perbelanjaan.
Indonesia yang kaya akan beragam kebudayaaan dan alamnnya tentu menyimpan keunikan tersendiri dibanding dengan negara lain. Salah satunya ialah tentang macam-macam permainan trdisional yang pernah ada. Banyak permainan tradisional dari daerah jawa barat, jawa timur, sunda dan jawa yang pernah popular.
Sebelum permainan-permainan tersebut berkembang pesat, dahulu permainan-permainan tradisional sangat digemari anak-anak pada zamannya. Beragam permainan tradisional itu sangat diminati karena jaman duhulu belum secanggih saat ini. Dimana sekarang ini hampir semua permainan bisa dimainkan disebuah hanphone saja. Coba bayangkan dulu di era 90-an dari anak-anak hingga orang dewasa pasti mereka selalu bermain dengan cara yang tradisional, tetapi memberi kesan yang tidak bisa dilupakan hingga sekarang.
Permainan zaman dahulu banyak sekali mengajarkan pentingnya sebuah proses dan menyisipkan nilai-nilai kebaikan. Permainan tradisional juga akan melatih anak dalam bersosial. Selain itu permainan tradisional juga sangat baik untuk melatih ketangkasan dan motorik anak. Jadi, meskipun zaman telah berubah, akan lebih baik jika anak-anak sekarang diperkenalkan dengan permainan tradisional karena pada intinya baik permainan modern maupun permainan tradisional sama-sama menyenangkan dan memiliki manfaat.
Tetapi kini sayangnya permainan tradisional hanya menjadi kenangan dan jarang sekali dimainkan oleh anak-anak. Contoh permainan tradisional yang paling sering kita mainkan dulu adalah petak umpet, lompat tali, engklek, layangan dan lain sebagainya. Berikut ini permainan tradisional asal Indonesia yang sekarang hampir terlupakan.
1.2         RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
a.              Apa pengertian permainan tradisional?
b.             Apa saja macam-macam permainan tradisional dan nilai yang terkandung didalamnya?
c.              Apa saja manfaat permainan tradisional bagi anak?

1.3         TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.              Untuk mengetahui permainan tradisional.
b.             Untuk mengetahui macam-macam permainan tradisional dan nilai yang terkandung didalamnya.
c.              Untuk mengetahui manfaat permainan tradisional bagi anak.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1         PENGERTIAN PERMAINAN TRADISIONAL
Permainan tradisional menurut James Danandjaja (1987) adalah salah satu bentuk yang berupa permainan anak-anak, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan diwarisi turun temurun serta banyak mempunyai variasi. Sifat atau ciri dari permainan tradisional anak sudah tua usianya, tidak diketahui asal-usulnya, siapa penciptanya dan darimana asalnya. Biasanya disebarkan dari mulut ke mulut dan kadang-kadang mengalami perubahan nama atau bentuk meskipun dasarnya sama. Jika dilihat dari akar katanya, permainan tradisional adalah kegiatan yang diatur oleh suatu peraturan permainan yang merupakan pewarisan dari generasi terdahulu yang dilakukan manusia (anak-anak) dengan tujuan mendapat kegembiraan.

2.2         MACAM-MACAM PERMAINAN TRADISIONAL DAN NILAI YANG TERKANDUNG DIDALAMNYA
Banyak sekali macam-macam permainan tradisional di Indonesia, hampir di seluruh daerah-daerah telah mengenalnya bahkan pernah mengalami masa-masa bermain permainan tradisional ketika kecil. Permainan tradisional perlu dikembangkan lagi karena mengandung banyak unsur manfaat dan persiapan bagi anak dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Beberapa contoh permainan tradisional;
a.              KEJAR-KEJARAN
Walaupun jenis permainan ini banyak di temukan di berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai perbedaan masing-masing daerah namun inti permainan ini tetaplah sama yaitu kejar-kejaran, yang menang berlari agar tidak tertangkap oleh pengejar yang kalah dalam hompipa dengan berbagai cara.
Cara bermain: Cara permainan ini sangat mudah dimengerti, setelah hompipa atau “balasiak” didapatkan yang seorang anak yang bertugas sebagai pengejar sedangkan anak lainya segera berlarian secepat mungkin, mereka berlarian sejauh mungkin menghindari pengejar, karena yang bertugas menjaga akan berusaha mendapatkan korban untuk menjaga menggantikan dirinya. Dalam permainan ini orang yang dikejar berhak untuk jadi patung/ “patuang” dalam bahasa Minang, apabila sewaktu yang dikejar mengatakan patung maka dia akan menjadi patung, bersikap seolah-olah menjadi patung dengan sikap tidak boleh bergerak dan berbicara dengan siapapun sebelum terbebas kembali, sehingga pengejar tidak dapat menangkap dia, sehingga yang lain menjadi target sasaran untuk dikejar dan ditangkap, pemain yang sudah menjadi patung tadi dapat segera terbebas setelah ada temanya yang melepaskannya dengan cara menyentuh badan pemain yang sudah menjadi patung, kemudian barulah dia dapat kembali bergabung dengan para pemain lain yang sedang dikejar oleh yang kalah, apabila pengejar dapat menangkap pemain itu sebelum dia menjadi patung maka giliran pemain itu yang menjadi pengejar dan begitu seterusnya sampai permainan berakhir karena kesepakatan semua para pemain tersebut.

Nilai-nilai dan makna yang terkandung: 
·                Nilai keberanian: Permainan ini mengajarkan bahwa para pemain harus berani mengambil resiko. Begitu juga hidup pasti harus mengambil keputusan. 
·                Nilai pendidikan: mengajarkan cara-cara berpikir keluar dari kondisi dan situasi, mengajarkan cara berpikir dalam situasi yang terjempit. 
·                Nilai sosial: pemain akan saling membantu apabila ada pemain lainya yang menjadi patung, dengan cara membebaskannya.  Fungsi permainan ini diantaranya: Menghibur diri Membentuk kreatifitas Melatih fisik, dan Melatih ketangkasan.

b.             LAYANG-LAYANG
Layang-layang atau layangan merupakan lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara dan terhubungkan dengan tali atau benang ke daratan atau pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatan hembusan angin sebagai alat pengangkatnya. Dikenal luas di seluruh dunia sebagai alat permainan, layang-layang diketahui juga memiliki fungsi ritual, alat bantu memancing atau menjerat, menjadi alat bantu penelitian ilmiah, serta media energi alternative.
c.              PETAK UMPET
Dimulai dengan Hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing" (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 10, biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apasaja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi. Setelah hitungan sepuluh (atau hitungan yang telah disepakati bersama, misalnya jika wilayahnya terbuka, hitungan biasanya ditambah menjadi 15 atau 20) dan setelah teman-temannya bersembunyi, mulailah si "kucing" beraksi mencari teman-temannya tersebut. Jika si "kucing" menemukan temannya, ia akan menyebut nama temannya sambil menyentuh pohon atau tembok, apabila hanya meneriakkan namanya saja, maka si "kucing" dianggap kalah dan mengulang permainan dari awal.
Yang seru adalah pada saat si "kucing" bergerilya menemukan teman-temannya yang bersembunyi, salah satu anak (yang statusnya masih sebagai "target operasi" atau belum ditemukan) dapat mengendap-endap menuju pohon atau tembok, jika berhasil menyentuhnya, maka semua teman-teman yang sebelumnya telah ditemukan oleh si "kucing" dibebaskan, alias sandera si "kucing" dianggap tidak pernah ditemukan, sehingga si "kucing" harus kembali menghitung dan mengulang permainan dari awal. Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang pertama ditemukanlah yang menjadi kucing berikutnya.
Ada satu istilah lagi dalam permainan ini, yaitu 'kebakaran/terbakar' yang dimaksud di sini adalah bila teman kucing yang bersembunyi ketahuan oleh si kucing disebabkan diberitahu oleh teman kucing yang telah ditemukan lebih dulu dari persembunyiannya atau si kucing salah menyebut nama target yang di incar.
Begitulah permainan tersebut dilakukan hingga permainan berakhir. Waktu permainan bisa dilakukan pada pagi hingga siang hari. Jika sore hari biasanya anak-anak tidak boleh keluar rumah apalagi jika menjelang maghrib. Permainan ini sangat digemari dari jaman dahulu sampai saat ini, tapi sekarang hanya beberapa anak saja yang bermain permainan petak umpet, karena sekarang anak-anak hanya sibuk dengan gadgetnya dan lupa dengan teman-temannya
d.             ENGKLEK
Permainan yang kesepuluh bernama engklek. Permainan ini sampai sekarang masih dilakukan dan seluruh wilayah Indonesia mengenal permainan ini, meskipun disetiap daerah memiliki sebutan lain-lain. Engklek dimainkan oleh anak laki-laki dan juga perempuan. Bisa dilakukan oleh dua orang saja dan maksimal lima orang, sebab untuk memainkannya harus menunggu giliran dan jika banyak yang bermain maka akan lama menunggunya.
Cara bermain engklek cukup sederhana:  Para pemain harus melompat dengan menggunakan satu kaki di setiap kotak-kotak / petak-petak yang telah digambarkan sebelumnya di tanah. Untuk dapat bermain, setiap anak harus mempunyai kereweng atau gacuk yang biasanya berupa pecahan genting, keramik lantai, ataupun batu yang datar.  Kereweng/gacuk dilempar ke salah satu petak yang tergambar di tanah, petak dengan gacuk yang sudah berada diatasnya tidak boleh diinjak/ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada.  Pemain tidak diperbolehkan untuk melemparkan kereweng/gacuk hingga melebihi kotak atau petak yang telah disediakan. Jika ada pemain yang melakukan kesalahan tersebut maka pemain tersebut akan dinyatakan gugur dan diganti dengan pemain selanjutnya.  Pemain yang menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu melemparkan gacuk dengan cara membelakangi engkleknya, jika kereweng atau gacuk jatuh tepat pada salah satu petak maka petak tersebut akan menjadi daerah kekuasaan pemain. Kemudian pada petak tersebut, pemilik sawah boleh menginjak petak dengan dua kaki, sedangkan pemain lain tidak boleh menginjak petak tersebut selama permainan. Pemain yang memiliki sawah paling banyak adalah pemenangnya.

2.3         MANFAAT PERMAINAN TRADISIONAL
Adapun manfaat permainan tradisional sebagai berikut:
a.              Petak Umpet
ManfaatnyaPermainan ini memiliki manfaat yang sangat baik untuk melatih motorik anak. Membuat anak menjadi aktif bergerak dan juga aktif berpikir. Saat bermain, anak diharuskan mencari tempat persembunyian lawannya, itu berarti dapat mengasah daya pikir anak dan juga memupuk keinginan serta kegigihan anak untuk terus mencari tahu. Bagi anak yang diharuskan bersembunyai, permainan ini selain bermanfaat bagi motoriknya, juga merangsang daya pikir anak untuk mencari tempat persembunyian yang aman untuk dirinya.
b.             Engklek
ManfaatnyaPermainan englek sangat bagus untuk gerak fisik anak. Permainan ini mendukung pertumbuhan anak terutama kecerdasan kinetiknya. Anak yang melompat dengan satu kaki pada permainan engklek akan berusaha menyeimbangkan tubuhnya dengan satu kaki. Lompatan yang dilakakukan baik bagi proses metabolism tubuh anak dan juga dapat membantu untuk membakar kalori tubuhnya. Selain itu, anak akan belajar lebih percaya diri karena saat giliran anak bermain, ia akan tampil menunjukkan kebolehannya dalam melompat lompat di depan lawannya. 
c.              Layang-layang
Manfaatnya :  Manfaat permainan ini untuk melatih kesabaran anak. Menerbangkan layang-layang bukan suatu hal yang mudah. Anak harus dituntut sabar mencari arah angin yang tepat untuk menerbangkan laying-layangnya dan menggerak-gerakkan tali layang-layang dengan gerakan yang tepat agar tali layang-layang tidak terputus.
·                Memahami konsep sportivitas
·                Melatih Kemampuan fisik anak
·                Belajar mengelola emosi                                                 
·                Menggali kreativitas
·                Mengenal kerja sama
·                Meningkatkan kepercayaan diri
·                Bersosialisasi lewat permainan

BAB III
PENUTUP

3.1         KESIMPULAN
Permainan tradisional adalah salah satu bentuk yang berupa permainan anak-anak, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan diwarisi turun temurun serta banyak mempunyai variasi. Beberapa contoh permainan tradisional yaitu kejar-kejaran, layang-layang, petak umpet dan engklek.
Adapun manfaar dari bermain tradisional adalah  Permainan ini untuk melatih motorik anak, sangat bagus untuk gerak fisik anak dan permainan ini mendukung pertumbuhan anak terutama kecerdasan kinetiknya serta melatih kesabaran anak.

3.2         SARAN
a.              Sebaiknya permainan tradisional dapat dilestarikan agar tetap dikenal dan dimainkan oleh anak-anak.
b.             Permainan tradisional dapat dijadikan kegembiraan bagi setiap yang memainkannya.


DAFTAR PUSTAKA

Poros bumi. 2016. 18 Permainan tradisional asli indonesia yang pernah populer di jamannya http://porosbumi.com/permainan-tradisional/ diakses tanggal 10 Oktober 2016
Eka Sapri Alvyanto. 2012. Permainan tradisional http://alvyanto.blogspot.co.id/2012/10/permainan-tradisional.html#!/tcmbck diakses tanggal 10 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar